Minggu, 18 November 2012

PUISI UNTUK IBU


kalau teringat ibu
Saat burung melupakan dahan
aku teringat ibu
setelah pulang dari terbang jauh
luka rindu pada petang
yang terpisah
mungkin bukan milikku
Sejak kecil bertanyaku kepada bintang
tak pernah aku tahu

bagaimana rasanya rindu
Teman kecilku kupu-kupu
kembaraku angin ladang
bahagiaku capung-capung telaga
sejak dulu kerinduanku selalu gugup
ke mana hinggap sayap-sayapku

Kecilku layang-layang
tak seorang memegang benang
Hanya karena tangan-tangan langit
tak hilang angin dan awanku

Terpejam aku setiap ingat ibu
kalau nanti sampai titik airmataku
ingin kukirim itu sebagai kado
setangkai kenangan kepada ibu
tak tahu apa ibu sedang menunggu




Satu-satunya kenangan terindah yang masih membekas pada saya adalah ketika pada suatu pagi, saya membimbing tangan mama, memapah memetik buah rimbang (kalau di Jakarta disebut lenca, buahnya kecil dijadikan sayur). Buah rimbang ini bisa jadi obat mata. Sudah sekian tahun badan mama seperti lumpuh dan mata rabun.

Kemudian kenangan kedua yang samar, adalah ketika mama meninggal dan dibawa ke kuburan. Banyak orang mengantar ke kuburan, saya lupa apakah saya menangis atau tidak waktu itu.

Setelah kedua kenangan samar ini, tak ada lagi kenangan tersisa bagi saya terhadap mama karena memori masa kecil saya belum kuat menyimpan yang lainnya.

Tentu beda kenangan adik saya. Tak ada kenangan sedikit pun kepada mama. Sedari kecil kami berdua hidup tanpa kedua orangtua. Semenjak mama jatuh sakit, kemudian meninggal sampai kami mulai besar kami tinggal bersama tante dan nenek.

Ketika anak-anak yang lain terjatuh dan ingin mengadu kepada orangtuanya, kami bangun sendiri dan berjalan lagi. Ketika yang lain butuh bermanja dan merasakan dekapan dada seorang bunda, kami entah bermanja kepada siapa. Malam-malam kami gelap dan tidur kami tak pernah merasakan dekapan orangtua. Kepada siapatah kami harus bermanja, dan kepada siapatah pula kami mesti mengadu, ketika kaki kami terluka dan ada yang hendak ditanya?

Ketika para sahabat larut dalam keharuan dan kecintaan kepada orangtua—khususnya ibu. Saya bingung mesti mengalamatkansebuah puisi dari Handrawan Nadesul, 2001)

Sepemahaman saya, puisi ini bercerita tentang kerinduan dan kegamangan seorang anak kepada sosok seorang ibu. Seperti seekor burung yang telah terbang jauh, rindu pulang tapi gamang hendak hinggap kemana? Sejak kecil bertanya pada bintang, tak pernah tahu bagaimana rasanya rindu seperti kebanyakan orang yang punya ibu. Seperti burung yang ingin hinggap, dia bertanya kemana hinggap sayap-sayapku?

Dari kecil hidup seperti layang-layang yang putus benang, tak ada yang memegang. Tapi untunglah ada “tangan-tangan langit” yang menjaganya hingga tak tersesat hilang arah dia.

Puisi HN begitu menusuk kalbu saya. Berdebar dada saya setiap membaca ulang puisi ini. Masa kecilku seperti layang-layang putus, terbang terbawa angin tak ada yang memegang benang. Semenjak kecil telah ditinggal sang ibu tercinta, hilang kenangan akan masa-masa terindah dan manis bersama bunda. Tercerabut masa bermanja-manja.

Sering setiap kala renungan malam di acara kampus atau muhasabah, sulit terbit airmata ini ketika sampai sesi renungan tentang ibu. Ketika teman  yang lain terguguk terisak-isak ketika diajak mengingat segala tentang orangtua, saya begitu tersiksa karena merasa sayalah satu-satunya orang yang kebingungan tak tahu harus berbuat apa karena susah mengekspresikan arti ibu dan orangtua.

Mama pergi ketika saya masih kecil, mungkin saya masih berumur sekitar 5 tahun. Beliau meninggalkan kami berdua, saya dan adik perempuan yang masih kecil setelah sakit bertahun-tahun. Saya tak tahu, apakah adik saya masih sempat be ke siapa kerinduan saya ini. Ketika yang lain terisak akan salah dan ingin sujud mencium kaki sang bunda, saya hilang arah hendak ke siapa saya mesti bersujud dan melepaskan sifat kanak-kanak saya. “Luka rindu pada petang yang terpisah, mungkin bukan milikku.”

Cerita ini saya maksud bukanlah sentimentil yang hendak dikedepankan. Tapi hanya sebagai pembanding bagi para sahabat yang masih beruntung punya orangtua. Mumpung anda masih punya mereka, bahagiakan dan balaslah kebaikan mereka selama ini. Mereka yang telah terjaga di malam-malam sunyi oleh tangisan anda semasa bayi yang butuh susu.

Balaslah mereka yang sabar oleh rengekan dan kenakalan anda. Mereka yang telah memeras keringat dan berdarah-darah mempertaruhkan kehormatan dan nyawa demi sang ananda. Mereka yang telah menempatkan kepala di kaki, dan menempatkan kaki di kepala. Mereka yang tak lagi peduli diri dan kesehatan mereka, hanyalah demi kebahagiaan dan masa depan anak-anak tercinta.

Selagi masih ada tempat berbakti, persembahkanlah bakti anda kepada mereka. Selagi masih ada tempat dituju, tujulah mereka. Selagi masih ada tangan-tangan yang berhak mendapatkan ciuman anda, ciumlah tangan mereka minta maaf dan minta doa ridho mereka. Selagi masih ada tujuan untuk mencurahkan cinta anak pada orangtua, peluklah mereka dan angkat tinggi mereka ke tempat yang layak.

Sebab, ketika tiada lagi tempat yang akan dituju, dan kesempatan sudah terlambat. Maka di akhirat, entahlah apa kita akan bisa bersua dengan mereka. Sebab bisa jadi, kita hanyalah menjadi anak yang akan menceburkan orangtua sendiri ke neraka!

Marilah menjadi anak-anak yang menyiapkan surga untuk orangtua.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar